Abdul Ghofar tetap bekerja meski buta selama 16 tahun (Foto: Robert/Sun TV)
PASURUAN- Abdul Ghofar (16), seorang pemuda warga Dusun Krajan, Desa Karangsono, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Pasuruan, mengalami kebutaan hampir 16 tahun.
Meski mengalami keterbatasan, Ghofar tak kenal pantang menyerah. Dia bahkan kini menjadi tulang punggung keluarganya. Setiap hari, Ghofar berprofesi sebagai pencari pasir di Sungai Pendem yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
Kecilnya pendapatan dari pencari pasir, membuat anak pasangan suami istri, Rukhi dan Satuni ini menjadi pengamen di sore hari. Sedangkan kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh tani yang mempunyai pengahasilan setiap harinya Rp20 ribu.
“Anak saya ini sudah mengalami kebutaan semenjak umur 6 bulan. Sebelum mengalami kebutaan, anak saya ini sering makan tanah. Saya sebenarnya nggak tega melihat dia setiap hari mencari pasir dan mengamen, tapi mau apalagi kalau tidak dibantu anak saya ini, kami makan setiap hari pakai apa,“ kata Rukhi, orangtua Abdul Ghofar, Rabu (13/4/2011).
Setiap pagi sekira pukul 08.00 WIB, Abdul Ghofar sudah memulai aktivitasnya dengan membawah keranjang dan karung untuk mengambil pasir di sungai yang tak jauh dari rumah.
Untuk bisa mengumpulkan pasir hingga 1 mobil pikup, Ghofar membutuhkan waktu 10 hari. Nahasnya, upah yang diberikan untuk pasir 1 pikup hanya dihargai Rp30 ribu.
“Saya bekerja mencari pasir dan mengamen hanya untuk membantu orangtua dan makan adik-adik saya. Saya mencari pasir mulai jam 08:00 WIB hingga 13:00 WIB. Setelah itu, solat zuhur lalu istirahat sebentar. Pukul 16.00 WIB saya dan teman satu desa mengamen keliling dari satu desa ke desa lainya,“ tutur Ghofar.
Untuk mengerjakan hal tersebut, Ghofar tidak perlu dituntun oleh orang lain. Semangat pemuda ini untuk bekerja dan tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain bisa memotivasi adik-adiknya.
Suhud, Sekretaris Desa Karangsono, mengatakan kami akan mengajukan bantuan kepada Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Pasuruan terkait kondisi dari keluarga Abdul Ghofar ini.
Sejak dahulu hingga sekarang, Pemkab pasuruan belum pernah memberikan bantuan kepada Abdul Ghofar beserta keluarganya. “Kita akan memperjuangkannya,” tandasnya.
(Robert Ardyanto Dwi Setiawan/SUN TV/kem)
Meski mengalami keterbatasan, Ghofar tak kenal pantang menyerah. Dia bahkan kini menjadi tulang punggung keluarganya. Setiap hari, Ghofar berprofesi sebagai pencari pasir di Sungai Pendem yang letaknya tak jauh dari rumahnya.
Kecilnya pendapatan dari pencari pasir, membuat anak pasangan suami istri, Rukhi dan Satuni ini menjadi pengamen di sore hari. Sedangkan kedua orang tuanya bekerja sebagai buruh tani yang mempunyai pengahasilan setiap harinya Rp20 ribu.
“Anak saya ini sudah mengalami kebutaan semenjak umur 6 bulan. Sebelum mengalami kebutaan, anak saya ini sering makan tanah. Saya sebenarnya nggak tega melihat dia setiap hari mencari pasir dan mengamen, tapi mau apalagi kalau tidak dibantu anak saya ini, kami makan setiap hari pakai apa,“ kata Rukhi, orangtua Abdul Ghofar, Rabu (13/4/2011).
Setiap pagi sekira pukul 08.00 WIB, Abdul Ghofar sudah memulai aktivitasnya dengan membawah keranjang dan karung untuk mengambil pasir di sungai yang tak jauh dari rumah.
Untuk bisa mengumpulkan pasir hingga 1 mobil pikup, Ghofar membutuhkan waktu 10 hari. Nahasnya, upah yang diberikan untuk pasir 1 pikup hanya dihargai Rp30 ribu.
“Saya bekerja mencari pasir dan mengamen hanya untuk membantu orangtua dan makan adik-adik saya. Saya mencari pasir mulai jam 08:00 WIB hingga 13:00 WIB. Setelah itu, solat zuhur lalu istirahat sebentar. Pukul 16.00 WIB saya dan teman satu desa mengamen keliling dari satu desa ke desa lainya,“ tutur Ghofar.
Untuk mengerjakan hal tersebut, Ghofar tidak perlu dituntun oleh orang lain. Semangat pemuda ini untuk bekerja dan tidak mengharapkan belas kasihan dari orang lain bisa memotivasi adik-adiknya.
Suhud, Sekretaris Desa Karangsono, mengatakan kami akan mengajukan bantuan kepada Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Pasuruan terkait kondisi dari keluarga Abdul Ghofar ini.
Sejak dahulu hingga sekarang, Pemkab pasuruan belum pernah memberikan bantuan kepada Abdul Ghofar beserta keluarganya. “Kita akan memperjuangkannya,” tandasnya.
(Robert Ardyanto Dwi Setiawan/SUN TV/kem)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar