Penduduk Indonesia tahun ini (2011)
sekitar
238 juta dengan pendapatan per kapita sudah mencapai US$ 3.500.
Pendapatan per kapita tersebut menunjukkan bahwa jika satu keluarga
terdiri dari ayah, ibu, dan 3 anak maka pendapatan per tahun keluarga
itu mencapai US$ 17.500, yang setara dengan sekira Rp. 160 juta, sebuah
angka yang memperlihatkan daya beli yang cukup baik. Hal ini berarti
potensi daya beli dalam negeri cukup baik.
Ketika
Amerika dan Eropa belum bisa terlepas dari pengaruh krisis ekonomi
global 2008, Indonesia terus tumbuh. Ekonomi Indonesia selama periode
2005-2011 tumbuh sekitar 6% per tahun. Pada periode yang sama APBN juga
tumbuh dari 400 Triliun menjadi 1.200 Triliun. Melihat fakta ini, secara
academik reasoning agak sulit untuk menyebut pemerintah gagal.
Fakta-fakta tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu daya tarik
dunia. Potensi dalam negerinya, Indonesia sangat luar biasa.
Di sisi lain, pengusaha formal yang ada sekitar 570 ribu pengusaha. Angka tersebut menunjukkan sekira 0.24%
dari jumlah penduduk. Kalau merujuk negara yang cukup maju, Amerika
memiliki pengusaha yang lebih dari 15.5%, Singapura mencapai 7.2%.
Dengan kata lain, jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat sedikit.
Untuk menopang negara supaya maju, minimal harus ada pengusaha sebanyak
2% dari total jumlah penduduk. Karena itu, untuk maju Indonesia harus
memiliki tidak kurang 4.76 juta. Berarti Indonesia masih kekurangan 4.2
juta pengusaha.
Jumlah
penduduk besar dengan daya beli yang cukup baik menunjukkan peluang
permintaan yang besar. Di sisi lain, jumlah pengusaha yang sedikit
mengakibatkan supply dari dalam negeri sangat terbatas. Adanya gap yang
lebar antara supply dan demand menjadi peluang besar yang sangat
menarik. Peluang tersebut menjadi daya tarik bagi luar negeri maupun
importir, karena itu barang impor membanjiri Indonesia (terutama dari
China). Padahal seharusnya peluang itu juga ditangkap oleh para calon
pengusaha.
Dalam
perspektif persaingan dalam negeri, persaingan bisnis belum terlalu
keras (karena jumlah pengusaha yang masih sangat terbatas). Pesaing yang
banyak justru datang dari luar negeri. Dengan sistem open-economy,
misal adanya CAFTA, proteksi pada perusahaan dalam negeri (UKM) menjadi
sangat sulit dan pemerintah tidak bisa mencegah datangnya pesaing luar
negeri. Persaingan penting karena akan menambah kemampuan pengusaha
untuk bertahan dan tumbuh. Meski demikian, keberpihakan pada UKM harus
tetap ada. Dalam konteks seperti ini, pengusaha harus mampu melakukan
environmental analysis, baik external maupun internal analysis.
Selain
pertumbuhan, distribusi (pemerataan) menjadi isu yang sangat penting.
Pemerintah membagi geografis dalam koridor ekonomi tertentu sebagai
keunggulan wilayahnya, misalnya koridor Papua dan Maluku adalah koridor
perikanan dan pertambangan. Pertumbuhan yang lebih terdistribusi merata
secara nasional memperkokoh perekonomian secara nasional. Pemerataan ini
juga ditunjukkan dengan semakin tumbuhnya koperasi dan UKM di seluruh
pelosok Indonesia. Melihat fakta-fakta tersebut, sangat mungkin bahwa
daya tahan ekonomi Indonesia dalam bertahan menghadapi krisis ekonomi
global salah satunya adalah karena keberadaan Koperasi dan UKM.
Koridor
ekonomi Jawa Barat adalah industri yang Knowledge & Creativity
Based. Bandung adalah pusatnya knowledge dan creativity based dan IM
Telkom menjadi bagian di dalamnya. Sebagai contoh, anggaran belanja
masyarakat untuk belanja konten seluler sekarang sudah mendekati angka
belanja untuk konsumsi rokok yang nilainya triliunan. Ini potensi besar
untuk para mahasiswa berwirausaha dalam creativ-industry.
Untuk
keberlangsungan wirausaha, kejujuran menjadi hal yang sangat penting
untuk diperhatikan. Usaha yang dibangun dengan tidak jujur tidak akan
bertahan lama. Kejujuran pada konsumen akan mempertahankan loyalitas
konsumen tersebut. Untuk skala global, kejujuran akan mempertahankan
longterm partnership dengan pihak luar negeri.
Untuk
membantu calon pengusaha muda, Kementrian Koperasi dan UKM memberikan
kesempatan magang, memberikan akses untuk pemasaran, akses informasi,
dan juga akses pendanaan. Dengan kata lain kesempatan untuk menjadi
pengusaha terbuka lebar. Tantangan utamanya adalah manusia Indonesia
harus mengubah mindset-nya, dari semangat mencari kerja menjadi pencipta
kerja. Ketika mindset wirausaha ada di pikiran, pikiran akan mendorong
perbuatan. Selanjutnya, perbuatan akan menjadi kebiasaan. Pada akhirnya
kebiasaan akan membentuk karakter.
"Bukan karena keturunan dan modal yang membuat orang menjadi pengusaha, tapi pengusaha dibangun oleh keinginan, semangat dan percaya diri"
(Ir. Yusuf Budiana, MBA., Dekan SMTM/SABK)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar