Ibnu
Taimiyah kerap terfitnah, kali ini hujaman itu disinyalir datang dari
seorang Yang berlaqab At Thufi, nama lengkapnya adalah Sulaiman bin
Abdul Qawi bin karim bin Said.
Ibnu Hajar menukil perkataan At Thufi yang banyak
menisbatkan keburukan kepada Ibnu Taimiyah dari perkataan siapapun
yang ia dengar sekalipun dari seorang Syiah Mu’tazilah Qadariyah[2]
atau bahkan Musuh Ibnu Taimiyah Seperti Al Bakri. Diantaranya peristiwa
yang mirip dengan fitnah Ibnu bathutah tentang nuzul, serangan Ibnu
taimiyah terhadap Abu Bakar, Umar, dan yang paling banyak adalah
tuduhan-tuduhan seputar ibnu taimiyah telah merendahkan Ali bin Abu
Thalib dan keluarganya[3].
Sekalipun diawal At Thufi mengakui
kepiawaian Ibnu Taimiyah dan kehebatannya dalam menyampaikan pelajaran
tafisir, fiqh dan hadits. Bahkan mengatakan tak seorangpun mampu
menandingi kehebatan tersebut, tapi setelah itu dia menggambarkan Ibnu
taimiyah sebagai seorang Mujassim dan Nashibi dengan banyak mengambil
pendapat dari pemuka syiah , diantaranya dari Muhammad bin Abu Bakar As
Syakakini[4].
Karena banyaknya penukilan At Thufi
dari Syiah, penulis merasa curiga dengan orang ini, Al Hamdulillah Allah
memudahkan saya dalam mendapat biografi orang ini.
Kecurigaan saya ternyata terkuak. Biografi At Thufi ternyata ditulis oleh banyak ulama diantaranya Al Hafidz Ibnu Rajab dalam Dzail Thabaqatil Hanabilah. Sekalipun orang ini memiliki beberapa keutamaan dan tulisan-tulisan yang bermanfaat, namun tidak disangka ternyata ia dituduh tenggelam dalam bid’ah Rafidah.
Al Hafidz ibnu Rajab berkata :
حنبلي رافضي أشعري هذه أحـد الـعـبـر
Hanabilah, rafidhah, Asy’ariyah semuanya adalah teladan.
Dia juga memiliki Qasidah-Qasidah
tentang Rafidhah yang terdapat pada banyak karangan-karangannya, Dia pun
mengarang kitab yang berjudul : “Al Adzaabul Waasib ala Arwahin
Nawaasib” (Adzab yang kekal atas arwah Nawasib[5])
Selanjutnya Ibnu Rajab mengatakan:
“At Thufi bermukim di Madinah An
Nabawiyyah selama beberapa saat dan bersahabat dengan As Sakaakini al
Mu’tazili dan kedua bersama-sama dalam kesesatan dan Allah telah membuka
kedoknya serta mempercepat pembalasan atasnya di negeri Mesir”
Selanjutnya Ibnu rajab menukil Perkataan Tajuddin Ahmad bin Maktum Al Qaisy:
كم بين من شك في خلافته وبين من قيل: إنه الـلَّـه
Berapa banyak orang yang meragukan kekhalifahannya
dan yang mengatakan bahwa dia Adalah Allah.
dan yang mengatakan bahwa dia Adalah Allah.
Permasalahan itupun diadukan kepada Qadhi
Qudhat Hanabilah Saaduddiin Al Haritsi, dan kemudian terbukti, lalu ia
dihadapkan kepada sebagian wakil-wakilnya untuk dipukul dan di ta’zir
serta untuk diumumkan (kesesatannya, red).”
Ibnu Rajab menutup Kisah orang ini dengan mengatakan:
Pernyataan pernyataan serupa ditulis
oleh beberapa Huffadz diantaranya oleh Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam
Durarul Kaminah, bahkan Az Zahabi langsung menisbatkan kata Syii’
dibelakang namanya. Dalam Kitab Al ubar fii Khobari man ghubar. Beliau
mengatakan :
ومات العلامة النجم سليمان بن عبد القوي الطوفي الحنبلي الشيعي الشاعر، صاحب شرح الروضة، وكان على بدعته كثير العلم، عاقلاً، متديناً. مات ببلد الخليل كهلاً.انتهى
Al Allamah Najmuddin Sulaiman bin Abdul Qawi At Thufi Al Hambali As Syii’ As
syairi, pemilik syarah Raudhah. Berbuat bid’ah, namun banyak Ilmunya,
cerdas, dan religius, Wafat di negeri al Kholil (Ibrahim, red)
Oleh karena itu penulis berharap
semoga kabar-kabar tentang taubatnya adalah kebenaran. Az Zahabi juga
mendoakan dan berharap ia telah bertaubat dalam kitabnya siyar A’lamin Nubala,
dan lagi ia memiliki banyak karangan yang bermanfaat dalam mazhab
hambali dan bahkan syaikh Abdurrahman As Saadi telah mentahqiq sebuah
Nadzam miliknya yang berisi 15 ribu bait tentang Fiqh Mazhab Hanabilah,
beliau juga menyimpan beberapa manuskrip yang merupakan karangan At
Thufi.
At Thufi juga disinyalir merupakan murid
ibnu taimiyah dan atau gurunya ibnu Taimiyah sebagaimana yang disebutkan
oleh Ibnu Rajab diawal biografi Ibnu Taimiyah dalam kitab Dzail Thabaqatil Hanabilah.
Adapun celaannya terhadap ibnu taimiyah dalam Durarul kaminah
maka perlu dipahami bahwa itu belum tentu pendapat At Thufi, karena
kalimat-kalimat At Thufi yang ditampilkan oleh Ibnu Hajar adalah bentuk
nukilan dan identifikasi At Thufi terhadap pendapat orang lain tentang
ibnu Taimiyah diantaranya As Sakaakini dan Al Bakri. dia juga kerap
mengatakan “sebagian orang menisbatkan”, “dinisbatkan kepadanya”, “satu
kaum menisbatkan” dll (lihat tulisan berwarna merah dalam teks Durarul
kaminah) yang menunjukkan bahwa itu bukan pendapatnya. Adapun yang jelas
merupakan pendapatnya adalah perkataannya diawal Nukilan Ibnu Hajar
dimana At Thufi mengatakan :
وكان يتكلم على المنبر على
طريقة المفسرين مع الفقه والحديث فيورد في ساعة من الكتاب والسنة واللغة
والنظر ما لا يقدر أحد على أن يورده في عدة مجالس كأنه هذه العلوم بين
عينيه فأخذ منها ما يشاء
Dan ia (Ibnu Taimiyah) berbicara
diatas mimbar layaknya seorang mufassir dan ahli fiqh serta Hadits. Dia
melihat menerangkan Al Kitab, sunnah dan bahasa serta penelitian dalam
berbagai majelis dengan kemampuan yang tidak bisa ditandingi seorangpun.
Sepertinya ilmu-ilmu tersebut didepan matanya lalu ia mengambil apapun
yang ia inginkan dari kitab-kitab tersebut.
Dia juga mengatakan:
وكان من أذكياء العالم
Dia termasuk orang yang cerdas dan alim.
(lihat tulisan berwarna hijau dalam teks Durarul kaminah)
Setelah mengucapkan dua pujian diatas,
barulah dia mulai menukil dan menisbatkan cerita-cerita miring tentang
ibnu Taimiyah dari orang lain yang merupakan Ahli Bid’ah. Dari sini
terlihat bahwa pendapat beliau sesungguhnya adalah memuji Ibnu Taimiyah
karena hanya itulah yang murni berasal darinya sesuai susunan kalimat
yang terdapat dalam naskah Durarul Kaminah, namun kalaupun bukan
demikian maka cukuplah celaan para Huffadz termasuk Ibnu Rajab sebagai
hakim bahwasanya cerita-cerita miring tentang ibnu Taimiyah tersebut
tidak bisa dipercaya karena berasal dari orang yang sesat Aqidahnya.
Yang membuat miris dan ironis adalah
orang-orang sekarang yang menisbatkan celaan terhadap Ibnu Taimiyah dari
At Thufi, padahal At Thufi menukilnya dari orang-orang sesat.
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar